Skip to main content

[review] MATINYA KEPAKARAN - TOM NICHOLS


Pertama-tama, kenapa aku bisa memilih buku ini untuk dibaca.
Banyaknya list buku yang ingin aku beli kalah dengan ego, yang malah cari referensi lagi buku untuk dibeli dan ketemulah satu video youtube, yaitu official youtubenya Pak Anies yang mereview buku ini. Dalam video tersebut Pak Anies menjelaskan kaitannya "pakar" dan suatu negara. Penasaran dong. Yes, sebagai seseorang yang bekerja dengan topik terkait dalam suatu kepakaran tentu saja mendorong niatku untuk membeli buku ini. Sebelumnya mohon maaf list bukuku yang lain.. 

Berikut sinopsis dari buku tersebut, 

Seberapa pentingkah vaksinasi? Benarkan Bumi itu datar? Apakah telur baik untuk dikonsumsi? Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yyang menyesatkan. Kadang, dalam rimba infomasi masa kini, penjelasan pakar tidak didengar, sementara jawaban dari tokoh yang mempunyai banyak penikut justru lebih dipercaya-dan membahayakan banyak orang.

Tom Nichols memotret dengan baik realitas tersebut. Menggunakan istilah "matinya kepakaran", profesor U.S Naval War College dan Harvard Extension School itu menunjukkan bagaimana pendapat yang salah bisa dianggap sebagai kebenaran. Parahnya, pihak-pihak yang seharusnya memberikan pencerahan, seperti pergururan tinggi, media, hingga kalangan pakar itu sendiri, kadang justru memiliki andil dalam membunuh kepakaran.

Matinya Kepakaran adalah pesan agar semua orang mencari dan memperoleh informasi dari sumber yang tepat, demi kebaikan dirinya sendiri dan orang lain. Pesan tersebut penting bukan hanya untuk kegiatan sehari-hari, melainkan juga untuk menentukan arah suatu negeri. Saat pakar dimusuhi dan anti-intelektualisme kian marak, jalan menuju kekuasaan yang korup terbuka lebar, dan nasib demokrasi pun terancam.


Setelah membaca buku tersebut, menurutku ya ini menurutku, terlalu bertele-tele atau terlalu banyak penjelasan yang intinya sama saja tapi banyak juga point yang relate bagi kita semua sebagai "warga sipil" yang di dalamnya pun ada warga sipil yang bekerja sebagai "pakar".

Kita bisa melihat dari sudut pandang sebagai orang awam dan pakar, bukunya pun tidak menyudutkan mana yang salah atau mana yang benar. Karena banyak orang awam yang mengkritik atau (bisa jadi) ingin menjatuhkan seorang pakar padahal tidak ada ilmu pengetahuan disitu. Begitu pula pakar yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Walaupun begitu, dalam bernegara pastinya dibutuhkan warga dan para ahli atau pakar di bidangnya. 

Berdasarkan goodreads memang beragam komentarnya ada yang malah memberikan rasa kecewa dengan buku ini tapi ada juga yang memberikan rating baik, tergantung perspektif orang bagaimana atau point apa yang bisa kita ambil dari buku ini. Karena melihat rating dari goodreads tidak mencapai 4.00/5.00.

Jika kalian penasaran, bisa beli bukunya disini

Comments

Popular posts from this blog

[review] Di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Buku novel Di Tanah Lada ini merupakan novel kedua dari penulis, yaitu Ziggy setelah baca Tiga dalam Kayu dan novel ini menceritakan tentang dua anak kecil yang diliputi skeptis dan pertanyaan-pertanyaan yang wajar sekali jika mereka mempertanyakan hal itu, tetapi mereka tidak hanya bertanya, kebanyakan mereka menyimpulkan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Mulai dari perspektif dimana mereka mendoktrin bahwa semua ayah itu jahat dan masih banyak lagi, walaupun ada beberapa point yang pengen banget dibahas lebih jauh lagi tapi aku puas dengan endingnya, bahkan terdapat lebih dari satu ending. Berikut sedikit penjelasan novelnya, "Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapmya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap maksa dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P-anak lelaki yang pandai sekali b...

[review] Bone by Mijin Jung

  Ini dia sinopsisnya, “Bawa 500 juta won, atau gadis ini mati.” Dua tahun sudah Hajin menghilang tanpa kabar, meninggalkan luka yang nyaris tak bisa disembuhkan dalam diri Junwon. Akan tetapi, saat Junwon mulai melupakan Hajin dan melanjutkan hidupnya, dia menerima sebuah paket dengan surat ancaman. Batas waktunya mendesak, Junwon harus menemukan Hajin. Jika tidak, sudah bisa dipastikan dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Junwon pun memulai pencariannya, tenggelam dalam kenangan-kenangan bersama Hajin… Sebuah fiksi fotografi. Foto oleh Sunhye Oh.   Aku tertarik dari buku ini karena mereka menyajikan jepretan-jepretan karya Sunhye Oh dan hasil jepretannya aku suka tipikal gloomy dan dark gimana gitu kesannya. Kemudian, judulnya. Setelah baca buku ini, kalian akan tahu kenapa buku ini bisa diberi judul “Bone” Overall, dari segi ceritanya termasuk biasa aja, alurnya maju mundur dan mungkin jadinya lebih ke misteri-romance. Barangkali genrenya (?) Bukan peny...