Skip to main content

[review] Bone by Mijin Jung

 

Ini dia sinopsisnya,

“Bawa 500 juta won, atau gadis ini mati.”

Dua tahun sudah Hajin menghilang tanpa kabar, meninggalkan luka yang nyaris tak bisa disembuhkan dalam diri Junwon.

Akan tetapi, saat Junwon mulai melupakan Hajin dan melanjutkan hidupnya, dia menerima sebuah paket dengan surat ancaman. Batas waktunya mendesak, Junwon harus menemukan Hajin. Jika tidak, sudah bisa dipastikan dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan gadis itu lagi.

Junwon pun memulai pencariannya, tenggelam dalam kenangan-kenangan bersama Hajin…

Sebuah fiksi fotografi. Foto oleh Sunhye Oh.

 

Aku tertarik dari buku ini karena mereka menyajikan jepretan-jepretan karya Sunhye Oh dan hasil jepretannya aku suka tipikal gloomy dan dark gimana gitu kesannya. Kemudian, judulnya. Setelah baca buku ini, kalian akan tahu kenapa buku ini bisa diberi judul “Bone”

Overall, dari segi ceritanya termasuk biasa aja, alurnya maju mundur dan mungkin jadinya lebih ke misteri-romance. Barangkali genrenya (?)

Bukan penyuka genre romance, bukan style aku karena banyak hampir menceritakan banyak kenangan mereka berdua dibandingkan fokus dalam penyelesaian masalahnya karena ya ternyata begitu, itu mungkin kenapa penyelesaian masalahnya singkat karena ya begitu. Suatu kesalahan dimasa lalu yang bagi aku terlalu berlarut-larut dalam kesedihan (?) atau mungkin usahanya kurang teliti dan membiarkan diri dikuasai kesedihan sehingga dapat menyebabkan satu kesalahan tersebut (?). Idk.

Endingnya oke dan aku pikir karena genrenya romance bisa berhenti di tengah cerita ternyata engga karena mungkin penyelesaian masalahnya yang buat aku penasaran dan ya aku berhasil baca buku ini selesai. Ga terlalu gimana-gimana terhadap buku ini, alur maju-mundur dan termasuk monoton aja gitu, tapi jadi bacaan ringan juga oke. Kesan gloomy nya yang aku suka dari buku ini.

Bagi kalian yang suka genre misteri atau sudah pro dengan permisterian mungkin ini terlalu ringan tapi kalau cari bacaan ringan dengan konsep gloomy ini boleh juga. 

Comments

Popular posts from this blog

[review] Di Tanah Lada - Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Buku novel Di Tanah Lada ini merupakan novel kedua dari penulis, yaitu Ziggy setelah baca Tiga dalam Kayu dan novel ini menceritakan tentang dua anak kecil yang diliputi skeptis dan pertanyaan-pertanyaan yang wajar sekali jika mereka mempertanyakan hal itu, tetapi mereka tidak hanya bertanya, kebanyakan mereka menyimpulkan berdasarkan apa yang mereka lihat dan rasakan. Mulai dari perspektif dimana mereka mendoktrin bahwa semua ayah itu jahat dan masih banyak lagi, walaupun ada beberapa point yang pengen banget dibahas lebih jauh lagi tapi aku puas dengan endingnya, bahkan terdapat lebih dari satu ending. Berikut sedikit penjelasan novelnya, "Salva, sering disapa Ava. Namun, Papanya ingin menamainya Saliva, yang berarti ludah, sebab menganggapmya tidak berguna. Dari kamus pemberian Kakek Kia, Ava mencari setiap maksa dari kata-kata yang ditemukan sehari-hari. Ketika keluarga Ava pindah ke Rusun nero setelah Kakek Kia meninggal, Ava berjumpa dengan P-anak lelaki yang pandai sekali b...

[review] MATINYA KEPAKARAN - TOM NICHOLS

Pertama-tama, kenapa aku bisa memilih buku ini untuk dibaca. Banyaknya list buku yang ingin aku beli kalah dengan ego, yang malah cari referensi lagi buku untuk dibeli dan ketemulah satu video youtube, yaitu official youtubenya Pak Anies yang mereview buku ini. Dalam video tersebut Pak Anies menjelaskan kaitannya "pakar" dan suatu negara. Penasaran dong. Yes, sebagai seseorang yang bekerja dengan topik terkait dalam suatu kepakaran tentu saja mendorong niatku untuk membeli buku ini. Sebelumnya mohon maaf list bukuku yang lain..  Berikut sinopsis dari buku tersebut,  Seberapa pentingkah vaksinasi? Benarkan Bumi itu datar? Apakah telur baik untuk dikonsumsi? Pada era informasi seperti sekarang, yang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan hanya pakar, melainkan juga para penganut teori konspirasi, orang awam sok tahu, hingga pesohor yyang menyesatkan. Kadang, dalam rimba infomasi masa kini, penjelasan pakar tidak didengar, sementara jawaban dari tokoh yang mempunyai ba...